Minggu, 05 Mei 2013

Kuliner warisan Aceh Besar "Sie reuboh"

DAGING rebus atau dalam bahasa
Aceh disebut sie reuboh, bukan
sekadar daging yang direbus. Ini
kuliner khas Kabupaten Aceh Besar
yang diwariskan turun-temurun dan
menjadi santapan wajib saat tiba Ramadhan. Karena,
kuliner ini bisa bertahan hingga satu bulan.
Sie reuboh memang bukan sekadar daging rebus. Ia
dibuat dari gumpalan daging beserta gapah yang
dibumbui garam, cabe merah, cabe kering, cabe rawit,
kunyit, kemudian direbus hingga mendidih di belanga
tanah tanpa disiram air.
Khusus untuk gilingan ketiga jenis cabe, rawit, merah
dan cabe jangan dihaluskan. Biarkan ia dalam keadaan
kasar sehingga bijinya akan lengket di permukaan
daging nantinya.
Setelah air rebusan yang keluar dari daging dan gapah
mengering, biarkan ia selama satu malam dalam
belanga. Keesokan harinya, ketika dipanaskan kembali
dan gapah yang membalut daging meleleh, siramkan
cuka bersama air dan biarkan sampai mengering hingga
dagingnya empuk. Cuka yang digunakan pun harus
cuka enau.
Sampai tahapan ini, satu fase masakan kuliner sie
reuboh bisa dianggap selesai dan bisa dijadikan
santapan dengan cara disayat sebagai lauk. Di tahapan
ini pula, sie reuboh bisa akrab dengan waktu dan
bertahan hingga berbulan-bulan. Cara menyantapnya
tak berubah, yakni dipanaskan dengan api yang tak
terlalu besar, dan harus tetap dalam belanga tanah.
Proses sie reuboh sebagai kuliner khas Aceh Rayeuk
belum seluruhnya berhenti sampai di sini. Daging rebus
itu bisa diolah menjadi banyak turunan. Mulai dari sie
goreng istilahnya yang mirip rendang, dimasak lemak,
dibuat kuah asam keung khas Aceh dan bisa juga
dijadikan semacam abon.
Sie reuboh menguapkan wangi cuka yang keras dan
menggoda. Wangian cuka ini menjalar bersama rasa
pedas bercampur asam hingga ke langit-langit mulut
ketika dimakan. Wangi cuka nipah inilah yang
mendominasi rasa daging rebus, yang sulit untuk
dilewatkan.
Di tahun-tahun terakhir ini sie reuboh sebagai menu
kuliner yang dijajakan di warung-warung apalagi
restoran, makin jarang didapat. Ia kalah pamor dengan
ayam tangkap, atau ayam penyet misalnya.
Namun, di kawasan Lambaro, Aceh Besar, sebuah
rumah makan khas Aceh Rayek, Delima Baru, dan resto
Ayam Tangkap Blang Bintang, masih tetap menjadikan
sie reuboh sebagai menu utama. “Satu hari kami
memasak 30 kilogram gading khusus untuk sie reuboh.
Kebanyakan pelanggan kami memang memesan sie
reuboh sebagai menu utama,” kata Rusli, pemilik rumah
makan tersebut.
Tak ada ramuan khusus untuk melariskan masakan itu.
Resep pembuatan sie reuboh ini juga diwariskan secara
turun-temurun oleh keluarga Rusli. “Saya merupakan
generasi ketiga. Usaha rumah makan ini sudah ada
sejak 60-an,” ungkapnya.
Namun, di rumah-rumah warga Aceh Besar, khususnya
saat meugang memasuki bulan Ramadhan, kuliner yang
mengundang kolesterol ini hampir bisa ditemui di setiap
rumah warga. Mau mencoba? Yuk ke Aceh Besar. (*)
Dari Makanan Meugang hingga Peunajoh Prang
RITUAL meugang diperingati warga Aceh dua atau satu
hari menjelang Ramadhan, Idul Fitri, serta Idul Adha.
Ritual itu biasanya dilakukan dengan membeli dan
memakan masakan berbahan daging. Bagi masyarakat
Aceh Besar, hari meugang tanpa sie reuboh terasa
hampa.
Rasa sie reuboh yang gurih, pedas, dan keasam-
asaman membuatnya lezat disantap bersama nasi atau
disajikan langsung.
Sie reuboh memang memiliki karakter tersendiri. Selain
rasanya yang khas, masakan ini juga tahan lama atau
bisa disimpan berhari-hari. “Sie reuboh tidak akan basi.
Kalau sudah dingin tinggal dipanaskan lagi, dan tetap
masih enak dimakan,” kata Bidin, seorang penggemar
sie reuboh.
Seperti warga Aceh Besar lainnya, Bidin tetap
menjadikan sie reuboh sebagai masakan yang harus
ada di rumah pada setiap hari meugang. “Walaupun
menu lain ada, sie reuboh tetap harus tersedia. Ini
wajib,” ujarnya.
Karena tahan lama dan tak cepat basi, makanan ini
sering pula menjadi peunajoh prang atau logistik perang.
Seorang mantan kombatan di Aceh Besar mengaku,
saat ia masih bergerilya, makanan ini sering menjadi
bekal dari keluarga yang dibawanya ke hutan. “Itu
karena makanan ini tahan lama. Jika ingin
menyantapnya, cukup dengan dipanaskan saja.
Sehingga cocok dibawa saat bergerilya,” ungkap
Saifuddin, seorang mantan kombatan yang kini
berprofesi sebagai kontraktor.
Kesederhanaan dalam penyajiannya, menjadi salah satu
alasan makanan ini cukup digemari, khususnya saat
sahur jelang berpuasa di bulan Ramadhan. Sayangnya,
kesederhanaan sie reboh ini juga telah membuatnya
dipandang sebelah mata.
Di Banda Aceh, misalnya, cukup sulit untuk menemukan
sajian ini di rumah makan atau restoran. Untungnya,
salah satu rumah makan di kawasan Lambaro, Aceh
Besar, dan resto ayam tangkap Blang Bintang, masih
menyediakan makanan tersebut.
“Dulu, tahun enam puluhan, kakek saya membuka
rumah makan yang menyediakan sie reuboh di kawasan
Jalan Perdagangan, Banda Aceh. Kemudian 1997,
pindah ke Jalan Diponegoro dan dikelola oleh orang tua
saya. Barulah sekitar 2006 saya melanjutkan usaha
turun-temurun ini di kawasan Lambaro,” ungkap Rusli,
pemilik Rumah Makan Delima Baru.
Saat Serambi berkunjung di rumah makan itu, terlihat
seorang turis asing sedang menikmati hidangan sie
reuboh. Meski tangannya dipenuhi gapah, ia terus saja
menyantap makanan itu tanpa perduli orang-orang di
sekitarnya. Ternyata, makanan ini tak hanya cocok di
lidah para pribumi, tapi juga bisa diterima di lidah
mereka yang tak terbiasa dengan makanan tersebut.
Inilah makanan meugang hingga peunajoh prang. (*)
Tak Perlu Waktu Lama Memasaknya
SERING yang menduga, kuliner Aceh merupakan
masakan yang sulit diolah. Teknik memasaknya pun
terkesan sulit. Padahal, tak semua demikian. Buktinya,
sie reuboh bisa dimasak dalam waktu yang cepat;
hanya 30 menit. Teknik pengolahannya pun jauh dari
kesan rumit.
Sederhanakah cara membuat sie reuboh? Jawabannya,
sangat sederhana. Tak ada literatur dan ketentuan yang
mengahruskan penggunaan daging tertentu. Pemilihan
daging bisa disesuaikan dengan selera. Bisa
menggunakan has luar dan bisa juga has dalam. Atau,
jeroan pun boleh. Bahkan, bisa juga memilih daging
sapi atau daging kambing.
Nah... bagaimana dengan bumbunya? Khusus sie
reuboh, pemakaian bumbu rempahnya tak terlalu
banyak. Yang dibutuhkan hanya bawang merah,
bawang putih, cabai merah, cabai rawit, serta cuka-
untuk memunculkan rasa asam. Seluruh bahan tersebut
mudah diperoleh di pasaran maupun di ladang-ladang
penduduk.
Untuk mencitrakan masakan khas yang yang didominasi
rasa pedas, sie reboh banyak menggunakan cabai.
Kemudian, sie reuboh diolah menjadi menu makanan.
Proses pengolahannya tak sampai 30 menit.
Agar proses memasaknya lebih cepat dan singkat,
dianjurkan menggunakan daging sapi has dalam atau
has luar. Karena, tingkat keempukan lebih dari daging
lainnya. Tapi, jika tak ingin repot-repot memasaknya,
silakan rasakan kenikmatan sie reuboh ini di resto dan
warung makan di Aceh Besar. (*)
Tanpa Sie Reuboh, Tak Jadi Meugang
MEUGANG atau yang disebut juga hari palahan,
menjadi tradisi sakral di Aceh. Saking sakralnya, jika
pada hari meugang tak membawa pulang daging, akan
menjadi minder dan dianggap memalukan. Pada 1986
lalu, seorang pria rela memotong kemaluannya lantaran
tak sanggup membawa daging ke rumah mertua pada
hari meugang.
Kesakralan ini dilengkapi dengan tradisi tersendiri di
masih-masing daerah. Di Aceh Besar, meugang yang
diperingati sehari menjelang Idul Adha, Idul Fitri, dan
puasa Ramadhan, akan hampa jika tanpa dilengkapi sie
reuboh. Meski tak dilengkapi aturan kuat, masakan ini
menjadi menu wajib bagi warga Aceh Besar saat
meugang.
Sie reuboh memang memiliki karakter tersendiri. Selain
rasanya yang khas, masakan ini juga tahan lama atau
bisa disimpan berhari-hari. Satu keuntungan sie reuboh
ini, tidak akan basi. Bila sudah dingin, tinggal
dipanaskan, tetap masih enak dimakan kapan pun.
Karena itu, saat meugang warga Aceh Besar sering
membuat sie reuboh, untuk kemudian disimpan sebagai
menu berbuka puasa atau sahur.
Kepupuleran masakan ini bukan hanya digemari oleh
warga Aceh Besar. Beberapa warga daerah lain juga
sering mencari sie reuboh di warung-warung nasi pada
hari biasa. Tapi bagi warga Aceh Besar, seakan ada
isyarat, meugang tak akan sah bila tak dilengkapi
dengan sajian menu sie reuboh. (*)

Jumat, 03 Mei 2013

Surat misi kristenisasi

INI ADALAH SURAT MISI KRISTENISASI DI INDONESIA
1 May 2013 | No Comments

(www.baitul-maqdis.com)

SEMUA MUSLIM WAJIB BACA ! DAN SHARE KE YANG LAIN ! PENTING !!!

==============================
===============
INI ADALAH SURAT MISI KRISTENISASI DI INDONESIA
=============================================
PROKLAMASI PERNYATAAN DEWAN GEREJA INDONESIA
” MEGA PROYEK RENCANA KRISTENISASI DI INDONESIA “
Jakarta, 21 Mei 1998
Nomor : 013/SGT – CSIS/V/98…
Lamp. : 1 ( satu ) berkas
Sifat : SANGAT RAHASIA
Perihal : Rencana Kristenisasi di Indonesia
Kepada Yth :1. Para pendeta PGI.
2. Para Pimpinan Wali Gereja.
3. Para Penginjil.
4. Ketua Umum G.M.K.I.
5. Ketua Umum P.M.K.R.I.
6. Para Ketua DEMA UKI.
7. Para Ketua DEMA Atma Jaya.
8. Para Ketua DEMA Sekolah Teologia Kristen Indonesia.
9. Para Jemaat PGI dan Wali Gereja yang terkasih.
10. Pimpinan Redaksi KOMPAS.
11. Pimpinan Redaksi SUARA PEMBAHARUAN.
12. Media Elektronika Radio / TV Swasta Afiliasi Kristen.
di Seluruh Indonesia
* Salam sejahtera dalam Kasih Tuhan, Jesus Kristus. Sebagai pernyataan rasa solidaritas Oikumene dan konsistensi serta eksistensi kita sebagai Ummat Kristiani di Indonesia, yang bergabung dalam wadah yang bernama ” C.S.I.S. ” dan ” SINAR GARUDA TIMUR “, maka kami pemimpin kedua wadah tersebut bergandengan tangan dalam Oikumene menyerukan kepada segenap Ummat Kristiani di seluruh penjuru Indonesia dalam menghadapi tantangan berat dalam masa Reformasi dari “Orang-orang Islam” yang nota bene menggangap kita minoritas.* Setelah memperhatikan sikap dan tindakan-tindakan orang-orang Islam di Indonesia baik yang menjadi Pejabat Tinggi Negara maupun pengusaha dan para ulamanya secara terus menerus ingin menghentikan perkembangan Kristen di Indonesia, apalagi mereka orang-orang Islam sudah mendominasi politik Golkar dan sudah mengendalikan Soeharto sehingga kegiatan mereka makin menjadi-jadi. Soeharto dan antek-anteknya sudah memilih pejabat-pejabat Islam lebih banyak daripada Kristen. Lebih-lebih dengan munculnya tokoh radikal Islam seperti Zainuddin MZ, Amin Rais, Nurcholis Madjid yang tergabung dalam ICMI. Hal tersebut rasanya menyulitkan kita untuk berkembang sebagaimana rencana kita 25 tahun silam. Namun demikian, nuansa baru telah tiba dengan adanya tuntutan REFORMASI dari para mahasiswa yang nota bene sangat menguntungkan kita dalam memperjuangkan kembali misi mulia kita yang sempat terhenti oleh antek-anteknya Soeharto.Dalam era ini, kita harus manfaatkan dengan sebaik-baiknya tiap momentum sehingga reformasi tetap disuarakan oleh mahasiswa sampai tumbangnya Habibie dengan ICMI-nya. Saudara-saudara para gembala yang tergabung dalam Forum Reformasi Mahasiswa Kristen Indonesia (FRMKI), kita harus tetap berjuang dengan memboncengi unjuk rasa mahasiswa untuk agar tujuan kitra tercapai, “Kristen Jaya di Republik Indonesia” seperti periode awal era Soeharto. Sehubungan dengan momentum reformasi yang mulus ini, maka kami telah berkunjung ke Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk tentang misi kita dalam menjadikan agama Kristen sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia dan kalau perlu menghalangi dengan cara apapun untuk memecah belah antara Islam sehingga perkembangan Islam di Indonesia terhenti dan menjadikan mereka golongan minoritas seperti di Filipina, Bosnia, Kosovo, dll.

Dari hasil wawancara kami dengan pemuka agama Kristen Amerika yang duduk di Kongres Amerika dan pengusaha-pengusaha Kristen Amerika, mereka siap membantu kita dengan DANA dan TENAGA untuk menekan pemerintah Habibie sehingga rakyat makin menderita dan terus mengadakan reformasi, kalau perlu kita tiupkan nuansa REVOLUSI, yang nantinya akan dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh kita yang pernah menjabat dalam pemerintahan Soeharto, seperti Jendral Benny Moerdani, Mayjen TB Silalahi, Pak Soemarlin, Pak Radius, Pak Moey. Pak Sudrajat, Pak Frans Seda, Pak SAE Nababan, Pak Romo Sandyawan, Pak Mochtar Pakpahan, Pak YB Mangunwijaya, dan tokoh muda kita sdr. Budiman Sudjatmiko, dan sdr. Pius.

Misi mulia kita tetap satu. Kristenisasi Indonesia dalam waktu 25 tahun dengan cara apapun. CIA dalam hal ini turut ini membantu kita, seperti bantuan mereka pada negara-negara lain untuk

mengucilkan negara-negara Islam di seluruh Indonesia dan memecah belah persatuan dan kesatuan Islam. * Program Kristenisasi secara umum diadakan di seluruh dunia di negara-negara Islam dan negara-negara mayoritas Islam, untuk mewujudkan misi mulia sang gembala dalam mendamaikan dunia dalam Kasih Tuhan Jesus Kristus Juru Selamat. Bila Kristen telah menjadi agama mayoritas di seluruh dunia, dunia akan aman dan damai,. Untuk itu, kita harus bersatu dalam OIKUMENE NASIONAL. Dalam mengkristenkan orang-orang Islam di Indonesia. Terutama generasi muda (siswa dan mahasiswa).

Misi kita akan dipantau dan dibantu oleh Amerika dalam bentuk dana dan tenaga (CIA). Harus di upayakan agar misi kita tidak akan terbaca oleh mereka. Seakan-akan tuntutan reformasi murni dari orang-orang (mahasiswa dan pemuda) Islam. Insiden 12 Novemer 1991 di Dili dan peristiwa berdarah di Masjid Tanjung Priok merupakan bukti nyata kekuatan kita. Saudara seiman kita ” Xanana Goesmau ” harus segera dibebaskan agar dapat melanjutkan misinya dalam mengucilkan orang Islam di Dili. Jadi misi kita saat ini bermotifkan ” Reformasi Mahasiswa ” yang kita tumpangi secara tersamar dan ambil manfaat sebaik-baiknya agar tokoh-tokoh Islam tidak lagi mendapat simpati di hati rakyat Indonesia. Kita tonjolkan kedermawanan tokoh-tokoh Kristen untuk mendapatkan simpati rakyat. ” Daftar Hitam ” yang harus diperhatikan amtara lain: Prof. Habibie dengan ICMI-nya, Amin Rais dengan Muhammadiyah-nya, Gus Dur dengan NU-nya, Nurcholis Madjid dengan Islam radikalnya, Emha Ainun Nadjib dengan Budaya Islamnya, Faisal Tanjung, Wiranto, Syarwan Hamid, Yunus Josfiah, dan rekan-rekannya. Tugas Utama kita yaitu mendukung Jendral Tri Sutrisno sebagai Presiden Priode mendatang, karena Pak Tri mudah dipengaruhi dan mudah dikendalikan. Juga orang-orang seperti Moerdiyono, Rudini, Emil Salim, Ali Sadikin, Sarwono, dan rekan-rekannya yang ambisi kekuasaan kita pegang mereka dan selanjutnya lakukan politik memecah belah mereka. Untuk itu tugas kita yang utama ialah menciptakan perselisihan dan pertengkaran antara orang-orang Islam fanatik dan Islam abangan sehingga terjadi perang saudara antara mereka, dengan memberikan sandang-pangan cuma-cuma, besiswa, anak asuh, pekerjaan yang dikelola oleh pengusaha Kristen Pribumi dan keturunan, seperti Sofyan Wanandi, dan Pak Yusuf Wanandi, Pak Salim Sudono, Pak Ciputra, Pak Usman Wibisono, Pak Eka Cipta, yang membantu misi mulia ini.

* Saudara-saudara seiman dalam kasih Tuhan Jesus Kristus, saudara-saudara harus ingat bahwa tugas kita ummat Kristiani adalah tugas mulia, dan harus dilaksanakan oleh setiap ummat Kristiani sejati sebagai wujud nyata kecintaan kita kepada sang Penebus kita, Yesus Kristus, pemberi terang dan tenteram bagi seluruh dunia. Kasih Jesus Kristus Juru selamat kita pasti diberikan kepada kita yang berada di garis terdepan dalam melanjutkan perjuangan Sang Gembala selama hayat kita. Sarana informasi sangat dominan dalam mempercepat upaya kita untuk mewujudlkan peselisihan diantara orang Islam dan menimbulkan kekacauan di masyarakat, sehingga bantuan MF tidak dapat digunakan. Kita manfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya, membonceng reformasi yang lebih keras dan lebih revolusioner sampai pemerintahan Habibie jatuh. Dalam hal ini, media cetak dan elektronika seperti Kompas, Suara Pembaharuan, dan media cetak Kristen lainnya sangat membantu, demikian juga TV swasta yang berafiliasi kepada kita. Lemparkan isue-isue yang sifatnya menghilangkan kepercayaan masyarakat kepada Habibie cs.

* Rencana selanjutnya yaitu media cetak dan elektronika harus dikuasai oramg-orang kita sehingga dengan leluasa dapat memutarbalikan fakta di masyarakat. Tujuan utama kita menjatuhkan pemerintah Habibie dan ICMI selama-lamanya dari bumi Indonesia. Untuk itu kaum intelektual, pengusaha, dan kaum muda kita, utamanya mahasiswa yang pegang peranan aktif dalam hal ini, teruslah berjuang dan kalau perlu pakai jilbab dan pakai kopiah, berikan salam untuk mengibuli mereka. Budayawan Kristen seperti Pak Chris Pattikawa dan teman-temannya, Ibu Ratna Sarumpaet dengan kawan-kawannya mengikut sertakan artis Islam dalam segala kegiatan untuk melunturkan fanatisme mereka terhadap Islam. Kawini orang Islam dengan tujuan merobah mereka menjadi kristen taat, contohnya Rina Hasyim. Ini tugas mulia kita . Kita harus kuasai pemerintah pusat maupun daerah dan ABRI, jabatan-jabatan penting harus dikendalikan oleh tokoh-tokoh Kristen agar memberikan fasilitas dan segala kemudahan bagi orang Kristen untuk bekerja, sekolah, masuk ABRI, masuk universitas, kenaikan pangkat dan lain sebagainya sehingga suatu saat kita yang dominan di dalam pemerintah di pusat daerah ABRI contoh nyata yaitu Timor Timur, NTT/Kupang, Sulawesi Utara/Menado, dan Maluku/Ambon sudah dikuasi sehingga orang-orang Kristen dapat

Melirik hasil panen padi

Kawasan aceh besar indentik dng pertanian... umumnya padi,

Sejarah Aceh Besar

Pada waktu Aceh masih sebagai
sebuah kerajaan, yang dimaksud
dengan Aceh atau Kerajaan Aceh
adalah wilayah yang sekarang dikenal
dengan nama Kabupaten Aceh Besar
ditambah dengan beberapa kenegerian/
daerah yang telah menjadi bagian dari
Kabupaten Pidie . Selain itu, juga
termasuk Pulau Weh (sekarang telah
menjadi pemerintah kota Sabang),
sebagian wilayah pemerintah kota
Banda Aceh , dan beberapa kenegerian/
daerah dari wilayah Kabupaten Aceh
Barat . Aceh Besar dalam istilah Aceh
disebut Aceh Rayeuk . Penyebutan
Aceh Rayeuk sebagai Aceh yang
sebenarnya karena daerah inilah yang
pada mulanya menjadi inti Kerajaan
Aceh dan juga karena di situlah terletak
ibukota kerjaaan yang bernama Bandar
Aceh atau Bandar Aceh Darussalam.
Untuk nama Aceh Rayeuk ada juga
yang menamakan dengan sebutan Aceh
Lhee Sagoe ( Aceh Tiga Sagi ). [3]
Saat ini Aceh Besar merupakan sebuah
kabupaten yang terdapat di dalam
wilayah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, dengan ibukotanya Kota
Jantho . Namun, di Kota Jantho hanya
terdapat kompleks perumahan dan
kantor-kantor pemerintahan, tidak ada
losmen ataupun hotel. Kota Jantho
dihubungkan dengan labi-labi dengan
jarak 60 km dari Banda Aceh, 28 km
menuju Saree, dan 12 km menuju jalan
utama Banda Aceh - Medan. Kira-kira
12 km dari Kota Jantho ini terdapat air
terjun. [3]
sejarah aceh besar.
Sebelum dikeluarkannya Undang-
Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956,
Kabupaten Aceh Besar merupakan
daerah yang terdiri dari tiga kawedanan,
yaitu:
1. Kawedanan Seulimum
2. Kawedanan Lhoknga
3. Kawedanan Sabang
Akhirnya dengan perjuangan yang
panjang Kabupaten Aceh besar
disahkan menjadi daerah otonom
melalui Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1956 dengan ibu kotanya pada
waktu itu adalah Banda Aceh dan juga
merupakan wilayah hukum Kotamadya
Banda Aceh .
Sehubungan dengan tuntutan dan
perkembangan daerah yang semakin
maju dan berwawasan luas, Kota Banda
Aceh sebagai ibu kota dianggap kurang
efisien lagi, baik untuk masa kini
maupun untuk masa yang akan datang.
Usaha pemindahan ibu kota tersebut
dari Kota Banda Aceh mulai dirintis
sejak tahun 1969, lokasi awalnya dipilih
Kecamatan Indrapuri yang jaraknya 25
km dari Kota Banda Aceh. Usaha
pemindahan tersebut belum berhasil
dan belum dapat dilaksanakan
sebagaimana diharapkan.
Kemudian pada tahun 1976 usaha
perintisan pemindahan ibu kota untuk
kedua kalinya mulai dilaksanakan lagi
dengan memilih lokasi yang lain yaitu di
Kecamatan Seulimeum tepatnya di
kemukiman Janthoi yang jaraknya
sekitar 52 km dari Kota Banda Aceh.
Akhirnya usaha yang terakhir ini berhasil
dengan ditandai dengan keluarnya
Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 35 Tahun 1976
tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten
Daerah Tingkat II Aceh Besar dari
wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II
Banda Aceh ke kemukiman Janthoi di
Kecamatan Seulimeum, Wilayah
Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh
Besar, berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh tim Departemen
Dalam Negeri Republik Indonesia dan
Pemerintah Daerah yang bekerjasama
dengan Konsultan PT. Markam Jaya
yang ditinjau dari segala aspek dapat
disimpulkan bahwa yang dianggap
memenuhi syarat sebagai ibukota
Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh
Besar adalah Kemukiman Janthoi
dengan nama Kota Jantho .
Setelah ditetapkan Kota Jantho sebagai
ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II
Aceh Besar yang baru, maka secara
bertahap pemindahan ibukota terus
dimulai, dan akhirnya secara serentak
seluruh aktivitas perkantoran resmi
dipindahkan dari Banda Aceh ke Kota
Jantho pada tanggal 29 Agustus 1983,
dan peresmiannya dilakukan oleh Bapak
Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia pada masa itu, yaitu Bapak
Soepardjo Rustam pada tanggal 3 Mei
1984. [4]

Pendahuluan

Assalamu'alaikum...
Selamat datang dan terima kasih atas kunjungan anda ke blog ini.

Bingung mau isi artikel tentang apa disini.
Maaf jika untuk saat ini blm ada isi apa-apa... tapi nanti ke dpn akn ada perubahan.
Mohon sarannya di kolom komentar?